AssalamualaikumWr.Wb, Alhamdulillahirobbilalamin, tahun baru Hijriah akan segera datang yakni pada bulan Muharram 1444 H. Bagi setiap umat muslim, hal tersebut harus disyukuri sebab bulan Muharram adalah bulan yang penuh kemuliaan. Dalam Ibnu al-Jauzi kitab at-Tabshîrah juz 2 halaman 6, bulan Muharram dimaknai sebagai bulan yang mulia derajatnya.
Demikianlahkhutbah jumat yang dapat saya sampaikan, semoga kita dapat mengambil hikmah dari yang saya sampaikan. بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
KaumMuslimin Jama'ah Jum'at Rahimani wa Rahimakumullah Sebaliknya, jika umat Islam berfikir negativ kepada Allah dengan diturunkan pandemi ini, bahwa Allah sudah tidak sayang lagi kepada hambanya adalah perbuatan yang sangat dibenci Allah swt. semua cobaan, bencana dan ujian yang Allah berikan kepada hambanya tidak lain dan tidak bukan pasti ada kemaslahatan yang lebih utama.
owh8. Khutbah Jum’at Pandemi dan Motivasi Keimanan Assalaamualaikum Wr Wb إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ Kaum Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimani wa Rahimakumullah Puji dan syukur kehadirat Allah swt yang senantiasa memberikan seluruh nikmatnya kepada kita semua, yang mustahil kita bisa menghitungnya. Dengan kenikmatan tersebut kita dapat menjalan perintah dan menjauhi laranga-Nya. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah dan limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. Kaum Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimani wa Rahimakumullah Nabi Ibrahim as terkenal dengan sejarah menemukan keimanan dan ketauhidannya. Sejak Ibrahim as kecil, tantangan kehidupanya adalah menemukan Tuhan yang mampu memberikan perlindungan, manfaat dan mengawasinya. Kegelisahan dengan keadaan sekitar, membuat Ibrahim as bertanya-tanya akan keberadaan Tuhan. Ayahnya yang bernama Azar atau dalam riwayat lain dikatakan bahwa nama tersebut adalah nama berhala, merupakan pembuat patung untuk disembah oleh masyarakat sekitar. Dengan keadaan ini membuat Ibrahim bertanya kepada Ibunya “Wahai Ibuku, siapa Tuhanku?”. Lalu ibunya menjawab “Tuhanmu adalah aku!”. Kemudian Ibrahim bertanya lagi “Siapa Tuhanmu?”. Lalu ibunya menjawab “Tuhanku adalah Ayahmu!”. Kemudian Ibrahim bertanya lagi “Lantas, siapa Tuhanya ayahku?”. Lalu ibunya menjawab “Tuhanya Ayahmu adalah rajamu sekarang Raja Namrud”. Kaum Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimani wa Rahimakumullah Singkat cerita, dengan keadaan semacam ini membuat Ibrahim as bertanya kepada Azar yang sedang membuat berhala. Tercatat dalam firman Allah swt وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ ٧٤ “Dan ingatlah di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata” Pertanyaan ini merupakan kegelisahan Ibrahim as yang tidak mau dibodohi untuk menyembah berhala. Berhala yang merupakan benda mati, tidak dapat memberikan apapun, tidak dapat memberi manfaat dan perlindungan, tidak pantas untuk disembah. Dzat yang berhaq disembah adalah dzat yang mampu memberikan manfaat dan perlindungan. Kemudian Allah memberikan tanda-tanda dari kekuasaan-Nya untuk meyakinkan Ibrahim akan keberadaan Tuhanya. 75. “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan Kami yang terdapat di langit dan bumi, dan Kami memperlihatkannya agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.” 76. “Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang lalu dia berkata “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.77. “Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” 78. “Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” 79. “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” Kaum Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimani wa Rahimakumullah Tanda-tanda kekuasaan Allah swt menjadi bukti keimanan Nabi Ibrahim, dengan melihat adanya bintang yang dipercayai sebagi Tuhan hanya muncul pada malam hari, begitu juga dengan bulan. Melihat kekuasaan Allah swt yang lebih besar, berupa matahari pada siang hari juga lenyap setelah malam tiba. Keyakinan Ibrahim as semakin kuat, bahwa benda-benda yang ia lihat bukanlah Tuhan, melainkan tanda kebesaran Tuhan. Sehingga, Ibrahim as berkeyakinan dengan hati yang murni disebutkan dalam Tafsir al-Kabir bahwa Ibrahim as menemukan Tuhanya dengan al-Qalb as-Salim dan dengan cara Ta’ammul yaitu berfikir mendalam bahwa Tuhanlah yang menciptakan alam semesta ini baik itu bumi, langit, bintang, bulan dan matahari serta seluruh jagat raya ini tundudk di bawah kekuasaanya. Lantas Ibrahim as mengajak kepada kaumnya untuk kembali kepada dzat yang maha besar yaitu Allah swt dan meninggalkan sesembahan yang tidak dapat memberikan manfaat sama sekali. Perjuangan Nabi Ibrahim as dalam mencari Tuhan, menjadi tolak ukur untuk kita semua yang sedang di timpah bencana berupa virus corona COVID-19. Selaku Umat Islam yang memperjuangkan asas-asas keislaman, tentu menaggapi persoalan ini sebagai tanda kasih sayang Allah kepada makhluknya. Seharusnya umat Islam bertanya-tanya seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim ketika mencari Tuhanya, kenapa virus ini Allah turunkan kepada kita. Seharusnya umat Islam berfikir, bahwa ini merupakan tanda kekuasaan Allah. lebih konkritnya bahwa seharusnya dengan adanya bencana ini umat Islam semakin kuat aqidahnya. Jika umat Islam berfikir layaknya Nabi Ibrahim as, ini menjadi contoh nyata bahwa Allah ingin hambanya kembali kepadanya dengan cara mendekatkan diri lagi kepada Allah swt. Shalat, do’a, menjaga keluarga, kerabat, tetangga dan orang-orang tersayang merupakan bukti keimanan seorang hamba dengan adanya pandemi ini. Menjaga istri agar bisa menjaga jarak dalam sosial, menjaga anak agar selalu hidup bersih, dan mengajak sanak kelurga untuk beribadah adalah contoh keimanan yang senantiasa dijaga. Pandemi COVID-19 dapat dihadapi dengan rasa iman kepada Allah, dengan cara tetap waspada dan menaati aturan pemerintah. Kaum Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimani wa Rahimakumullah Sebaliknya, jika umat Islam berfikir negativ kepada Allah dengan diturunkan pandemi ini, bahwa Allah sudah tidak sayang lagi kepada hambanya adalah perbuatan yang sangat dibenci Allah swt. semua cobaan, bencana dan ujian yang Allah berikan kepada hambanya tidak lain dan tidak bukan pasti ada kemaslahatan yang lebih utama. Oleh karenaya, sebagi umat Islam, berhaq mencontoh cara berfikir Nabi Ibrahim as dalam memperkuat keimanan dan Aqidah, terlebih lagi dalam menghadapi musibah virus corona ini. Mudah-mudahan umat Islam mampu menjalani bencana ini dengan penuh keikhlasan dan mengharap ridla Allah swt. semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan fikiran, hati dan aqidah kepad hamba-hambanya yang selalu mengitnya dan memberikan hidayah kepada orang-orang yang telah jauh dari-Nya. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ Khutbah Ke-II اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إله إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّابَعْد Kaum Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimani wa Rahimakumullah Marilah kita berdo’a kepada Allah swt, mudah-mudahan dengan adanya bencana virus ini Allah swt semakin menguatkan keimanan hambanya dan selalu melindungi dari marabahaya COVID-19. Dengan menundukan kepala kita seraya bermuhasaba diri, mudah-mudahan Allah swt senantiasa mengampuni dosa-dosa kita. Marilah kita berdo’a kepada Allah swt. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وبارك عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن Penulis, Dwi Arianto, Mahasiswa Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah PUTM Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ في مُحْكَمِ كِتَابِهِ الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ، فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ، وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى، وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ Maasyiral Muslimin Rahimakumullah Marilah kesempatan istimewa ini kita jadikan untuk saling mengingatkan akan makna takwa. Yakni bagaimana dalam sepekan, bahkan setiap saat untuk terus berupaya meningkatkan rasa takut kepada Allah SWT. Dengan demikian, setiap detik kita merasa terus dipantau layaknya CCTV. Percayalah, kalau demikian dalam keseharian, maka kualitas dan kuantitas ibadah maupun penghambaan kita kepada Allah SWT akan terus meningkat. Mudah-mudahan kita tergolong orang yang bertakwa yang akan mendapatkan petunjuk dalam setiap langkah kehidupan kita. Dan dengan keimanan serta ketakwaan yang kokoh ini, semoga kita akan mampu menjadi umat Islam yang sempurna yang mampu mewujudkan rukun iman dan melaksanakan rukun Islam. Maasyiral Muslimin Rahimakumullah Kesempurnaan Islam bisa kita raih dengan menjalankan lima ibadah yang terangkum dalam rukun Islam. Dan ibadah yang menjadi pungkasan dalam rukun Islam tersebut adalah berangkat ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah haji. Allah SWT berfirman dalam QS Ali 'Imran ayat 97 sebagai berikut وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ Artinya Dan di antara kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari kewajiban haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya tidak memerlukan sesuatu dari seluruh alam. Hadirin yang Dirahmati Allah Ayat ini menjadi pengingat pada kita selaku umat Islam untuk berusaha semaksimal mungkin bisa melaksanakan ibadah haji. Dengan menjalankan rukun Islam yang kelima ini, tentu kita akan bisa menyempurnakan keislaman kita. Sehingga pergi ke Tanah Suci untuk berhaji selalu menjadi cita-cita dan impian umat Islam sejak lahir ke dunia ini. Namun dalam ayat ini, Allah memberi catatan bahwa ibadah haji merupakan kewajiban bagi orang-orang yang mampu untuk menunaikannya. Lalu pertanyaannya, apa kategori orang yang mampu dalam menjalankan ibadah haji? Para ulama membagi pengertian “mampu berhaji” menjadi dua kategori. Pertama adalah mampu melaksanakan haji dengan dirinya sendiri dan yang kedua adalah mampu melaksanakan haji dengan digantikan orang lain. Seseorang bisa disebut mampu melaksanakan ibadah haji dengan dirinya sendiri apabila memenuhi lima hal. Pertama adalah kesehatan jasmani. Kedua, sarana transportasi yang memadai. Ketiga, aman dan terjaminnya keselamatan nyawa, harta, dan harga dirinya selama perjalanan dan pelaksanaan ibadah haji. Keempat, perginya perempuan dengan suami, mahram, atau beberapa perempuan yang dapat dipercaya dalam ibadah haji. Dan kelima rentang waktu yang memungkinkan untuk menempuh perjalanan haji. Jadi bisa kita pahami bahwa kriteria mampu untuk berhaji bukan hanya terkait dengan kemampuan finansial, namun banyak elemen yang perlu dipersiapkan untuk bisa dikatakan mampu berhaji. Jika seseorang sudah berusaha dan belum dapat mencukupi kriteria-kriteria mampu serta belum bisa melaksanakan ibadah haji, maka tidak ada dosa baginya. Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 286 sebagai berikut لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا Artinya Allah tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Dalam surat al-Maidah, ayat 6 juga ditegaskan oleh Allah SWT sebagai berikut مَا يُرِيْدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ Artinya Allah tidak menginginkan bagi kalian sesuatu yang memberatkan kalian. Namun demikian, hadirin yang dirahmati oleh Allah, kita patut berbahagia karena di Indonesia, semangat dan antusias umat Islam untuk berhaji sangat tinggi. Berbagai upaya dilakukan individu muslim, baik secara moral maupun material untuk dapat segera diberangkatkan pemerintah ke Tanah Suci. Hal ini terlihat dari antrean daftar tunggu yang berdasarkan data Kementerian Agama bisa mencapai puluhan tahun. Dalam kondisi normal, pemerintah memberangkatkan 221 ribu jamaah untuk berhaji. Para jamaah Indonesia bergabung dengan kurang lebih 2,5 juta jamaah haji dari berbagai penjuru dunia. Namun kita ketahui bersama bahwa tahun ini pelaksanaan ibadah haji diprioritaskan kepada mereka yang berusia tua. Belum lagi sebelumnya terkendala pandemi Covid-19. Dengan aturan yang ada, maka mereka yang telah mendaftar dan antreannya demikian panjang harus kembali menahan diri dan menebalkan kesabaran. Dengan demikian, kondisi ini tidak boleh menurunkan semangat umat Islam untuk terus berusaha dan berdoa guna mewujudkan impian untuk bisa beribadah di Tanah Suci. Sudah bisa dipastikan umat Islam, khususnya para calon jamaah haji yang memang sudah saatnya diberangkatkan, merasakan kesedihan atas penundaan haji ini. Pelaksanaan haji boleh tertunda, tapi niat mesti terus terjaga. Kerinduan untuk mengunjungi Baitullah seyogianya tak ikut mereda. Baik bagi orang yang sudah menunggu antrean berangkat maupun baru berikhtiar menabung untuk itu. Kita harus mampu mengambil hikmah atas kondisi ini dan berdoa semoga dengan ditundanya ini tidak mengurangi sama sekali makna niat kita untuk melaksanakan ibadah haji. Perlu kita sadari bahwa salah satu tujuan dari beragama atau maqashidus syari'ah adalah hifdhun nafs, menjaga keselamatan jiwa. Menjaga keselamatan adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda. Kaidah fiqih juga menegaskan bahwa دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ Artinya Upaya menolak kerusakan harus didahulukan daripada upaya mengambil kemaslahatan. Dengan pertimbangan memberikan kesempatan kepada mereka yang usianya senja semoga menjadi jalan bagi kemudahan jamaah lain. Marilah kita berdoa semoga kondisi ini segera berlalu dan dapat kembali normal. Semoga Allah mengijabah doa kita semua, amin. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Kata Mutiara Semangat Dalam Hidup dan Kebaikan ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor. Pada Jum’at, 1 Rajab 1440 H / 08 Maret 2019 M. Khutbah Pertama – Khutbah Jum’at Kata Mutiara Semangat Dalam Hidup dan Kebaikan إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ Ummatal Islam, Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia karena untuk maslahat yang besar dan tujuan yang agung. Yaitu untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tujuan ini saudaraku sekalian, tidak akan bisa terealisasi kecuali dengan kita mempunyai sifat al-hirsh kesungguhan dan semangat didalam berbagai macam kebaikan. Karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kita untuk mempunyai sifat al-hirsh semangat dan sungguh-sungguh didalam kebaikan. Dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam at-Tirmidzi, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ “Bersungguh-sungguhlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh dalam segala urusanmu, serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah.” HR. Tirmidzi Sifat hirsh, sifat kesungguhan, semangat dalam kebaikan adalah merupakan sifat yang mulia yang dimiliki seorang insan. Sebaliknya, sifat malas, sifat lemah, sifat yang tidak disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Makanya Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah;” HR. Muslim Kuat dalam keimanan, kuat dalam keinginan, kuat dalam kesungguhan, kuat dalam segalanya, terutama dalam beramal shalih. Tidak mungkin saudaraku sekalian, kita bisa mendapatkan cita-cita yang paling tinggi yaitu surga kecuali dengan adanya hirsh, dengan adanya semangat dan kesungguhan dalam kehidupan kita. Bahkan kita tidak bisa menjaga keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah kecuali dengan adanya kesungguhan. Oleh karena itulah Allah Ta’ala berfirman يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ ﴿١٠٢﴾ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” QS. Ali-Imran[3] 102 Artinya, hendaklah kalian benar-benar menjaga ketakwaan kalian dengan penuh kesungguhan, dengan penuh semangat di dalam menjaga keimanan kita sampai akhir hayat kita. Karena ketika kita telah kehilangan semangat dalam kebaikan, kita pasti akan semangat dalam keburukan. Apabila kita telah semangat dalam keburukan, maka itu kebinasaan untuk hidup kita saudaraku sekalian. Kewajiban seorang Mukmin untuk menyadari bahwasannya kewajiban dia adalah untuk melawan hawa nafsunya. Karena saudaraku sekalian, hawa nafsu kita memang tidak menyukai kebaikan. Hawa nafsu kita selalu condong kepada keburukan. Berbeda dengan fitrah kita yang menyukai kebaikan. Allah Ta’ala berfirman إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ “Sesungguhnya hawa nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan.” QS. Yusuf[12] 53 Tidak mungkin kita memiliki jiwa sungguh-sungguh dalam kehidupan dan semangat dalam kebaikan kecuali dengan cara berjihad melawan hawa nafsu kita, berjihad melawan kemalasan kita, berjihad melawan berbagai macam bisikan-bisikan setan yang akan menyebabkan kita kendor dalam kebaikan. Berapa banyak saudaraku sekalian, hal-hal yang menjadikan seseorang lemah dalam kebaikan? Diantaranya yaitu cinta dunia yang berlebihan. Ketika ia sangat semangat terhadap dunia, dia sangat bersungguh-sungguh mencari harta, bersungguh-sungguh mencari kedudukan, maka disaat itu ia akan lemah untuk mencari kehidupan akhirat. Ketika ia memandang bahwa dunia segala-galanya, ia melihat bahwasannya dunia itulah tujuan akhir hidupnya, bahwasanya kemuliaan dengan dunia, dan bahwasanya kesempurnaan itu dengan dunia, karena yang ia harapkan penghormatan manusia, sama sekali tidak mengharapkan keridhaan Allah, bagaimana orang seperti ini akan menjadi orang yang semangat untuk mencari ridha Allah? Bagaimana orang seperti ini akan menjadi orang yang sungguh-sungguh menjaga ketakwaan dan keimanan dia kepada Allah? Bahkan terkadang yang haram pun menjadi halal demi untuk mendapatkan semua keinginan dunianya tersebut. Sehingga disaat itulah semangat ia kepada kebaikan menjadi lemah, semangat ia hanya mencari kebahagiaan dunia belaka. Ummatal Islam, Diantara perkara yang menyebabkan semangat seseorang kepada kebaikan menjadi lemah dan pudar adalah semangat mengikuti hawa nafsu. Ketika seseorang mengikuti hawa nafsu, dia memandang hawa nafsu itu adalah segala sesuatu yang memuaskan hidupnya. Dia ingin hatinya puas, dia ingin nafsunya puas, dia ingin semuanya terpuaskan dalam kehidupan dunia ini. Maka ia mengikuti hawa nafsunya, disaat itulah semangat ia kepada kebaikan pun menjadi lemah. Oleh karena itu saudara-saudaraku sekalian, cobalah setiap kita berpikir, “dimana semangat kita kita letakkan? Selama ini kita semangat menuju apa? Apakah semangat menuju keridhaan Allah ataukah semangat menuju sesuatu yang Allah tidak ridhai? أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم Khutbah kedua – Khutbah Jum’at Kata Mutiara Semangat Dalam Hidup dan Kebaikan الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، نبينا محمد و آله وصحبه ومن والاه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنَّ محمّداً عبده ورسولهُ Ummatal Islam, Orang-orang yang bisa menjaga semangat dalam kebaikan hanyalah orang-orang yang menggunakan akal pikirannya. Ketika ia berpikir dengan pikiran yang lurus dan sehat, ia memahami bahwasannya perkara yang tidak bermanfaat itu tidak akan membawakan kepada dia sesuatu apapun manfaat berupa pahala maupun yang lainnya. Ia memandang sesuatu itu apabila tidak memberikan manfaat untuk hidupnya, buat apa? Dia pikirkan dengan akalnya yang sehat. Ketika dia hendak berbuat maksiat, dia pikirkan dengan akalnya yang sehat bahwasanya maksiat ini selalu memberikan mudhorot dalam hidup, mencabut keberkahan hidup, mendatangkan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan menyeret kepada maksiat-maksiat berikutnya. Dengan akalnya yang sehat tersebut ia berpikir bahwa sesuatu itu ternyata hanya akan merugikan dia. Bahkan membinasakan waktu-waktunya. Orang yang berpikir dengan sehat, ketika ia hendak melakukan kemalasan, dia berpikir buat apa saya malas? Apa manfaat kemalasan buat hidup saya? Apakah dengan saya bermalas-malas saya akan mendapatkan sesuatu yang saya inginkan berupa kemuliaan dunia dan akhirat? Tidak mungkin! Maka ia lawan kemalasannya tersebut. Maka dari itulah, berbahagialah orang yang menggunakan akal pikirannya untuk bersungguh-sungguh dan menjaga kesungguhannya. Orang yang bisa menjaga kesungguhan dan semangatnya adalah orang yang senantiasa mengharapkan keridhaan Allah semata. Orang yang beriman kepada kehidupan akhirat, orang yang mengharapkan surga Allah, keinginan yang tertinggi bagi dia adalah ridha Allah. Dihatinya yang ada hanyalah keinginan yang kuat untuk mendapatkan pahala yang besar. Maka disaat itu ia akan semangat dalam kebaikan. Namun terkadang saudaraku, semangat kepada kebaikan terhenti ketika ia memikirkan beratnya perbuatan kebaikan. Ketika dia hendak mengamalkan kebaikan lalu ia berpikir bahwa ternyata kebaikan dan amal tersebut berat, ia tidak berfikir betapa besarnya pahala yang akan Allah berikan kepadanya. Ia pun kemudian dihentikan oleh kemalasannya. Sungguh seperti ini orang-orang yang berjiwa kerdil, bukan orang-orang yang berjiwa besar. Terlebih para penuntut ilmu. Syaikh Bakr Abu Zaid berkata dalam kitabnya “Hilyah Thalibil Ilmi“, Seorang penuntut ilmu hendaklah memiliki sifat kejantanan. Jantan dia dalam menuntut ilmu. Artinya berani menghadapi rintangan dalam menuntut ilmu, kesulitan-kesulitan yang ia dapatkan dalam menuntut ilmu betul-betul hadapi dengan penuh kesabaran, ketabahan, sambil terus ia berusaha untuk mengkaji dan mengkaji. Orang yang malas-malasan dalam menuntut ilmu, ketika mendapatkan ternyata ilmu tersebut sulit lantas ia mundur, sama sekali ia tidak akan mendapatkan ilmu tersebut. Sehingga akhirnya ia merugi saudara-saudaraku sekalian. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللهُمَّ اجْعَلنَا مِن التَّوَّابِين اللهُمَّ اجْعَلنَا مِن المتَّقِين اللهُمَّ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوابُ الرَّحِيم اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ عباد الله إِنَّ اللَّـهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ﴿٩٠﴾ فَاذْكُرُوا الله العَظِيْمَ يَذْكُرْكُم، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُم، ولذِكرُ الله أكبَر. Dengarkan dan Download Khutbah Jum’at Singkat Tentang Kata Mutiara Semangat Dalam Hidup dan Kebaikan Podcast Play in new window DownloadSubscribe RSS Jangan lupa untuk ikut membagikan link download khutbah Jum’at ini, kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau Google+ Anda. Semoga Allah membalas kebaikan Anda.
Materi khutbah singkat di bawah ini membeberkan suatu contoh akhlak luhur sahabat Nabi, ketika dihadapkan dengan harta duniawi. Abu Dzar al-Ghifari, sahabat berperangai mulia itu, menunjukkan kepada kita semua bahwa tidak larut dengan gemerlap kekayaan adalah sesuatu yang sangat mungkin. Salah satunya dengan tidak hanya berpikir untuk diri sendiri, melainkan juga peduli kepada kebutuhan orang lain. Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul "Khutbah Jumat Teladan Kezuhudan Abu Dzar al-Ghifari". Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini pada tampilan dekstop. Semoga bermanfaat! Redaksi اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَآ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى خَاتَمِ اْلأَنْبِيَآءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ مُحَمَّدٍ وَّعَلى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah, Di awal khutbah ini, mari kita tingkatkan ketakwaan terhadap Allah dengan sebenar-benarnya, yaitu dengan berupaya secara optimal menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah, Di antara wujud ketakwaan terhadap Allah adalah sikap zuhud. Zuhud secara substansial dapat diartikan sebagai keadaan jiwa yang tidak didominasi oleh hal-hal yang bersifat duniawi. Adapun indikator utamanya adalah وُجُودُ الرَّاحَةِ فِي الْخُرُوجِ عَنِ الْمِلْكِ “Tetap merasa nyaman dan tidak merasa kehilangan saat harta dunia keluar dari kepemilikan kita.” Demikan menurut Syekh Abdullah bin al-Khafif 276-371 H, sufi Ahlussunnah wal Jamaah asal kota Shiraz Persia, atau Iran sekarang. Abul Qasim al-Qusyairi, ar-Risâlatul Quraisyiyyah, juz I, halaman 55. Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah, Di antara sahabat Nabi Muhammad saw yang terkenal kezuhudannya adalah Abu Dzar Al-Ghifari ra wafat 32 H, orang keempat atau kelima yang memeluk Islam langsung di hadapan Nabi Muhammad saw. Saking zuhudnya, Abu Dzar menganggap bahwa orang tidak boleh menyimpan biaya hidup yang melebihi kebutuhannya dalam sehari semalam. Karenanya, sahabat Nabi saw yang lain, yaitu Mu’awiyah ra menguji konsistensi sikap kezuhudan sahabatnya itu. Sayyidina Mu’awwiyah ra mengutus orang untuk memberinya uang dinar, kurang lebih sama dengan 3,5 miliar rupiah. Utusan itupun pergi membawa uang itu mendatangi Abu Dzar. Setelah sampai di sana, ia mengutarakan maksudnya “Mu’awiyah mengirimkan uang ini untukmu.” Mendapati tamunya memberikan uang yang sangat banyak, Abu Dzar segera menerimanya. Namun setelah si tamu berpamitan, Ia segera membagikan uang itu kepada orang-orang yang membutuhkan dan tidak menyisakan sedikit pun untuk diri dan keluarganya. Tak terduga, di waktu kemudian atas perintah Muawiyah utusan itu kembali lagi kepadanya dan menyatakan bahwa ia telah salah orang. “Sungguh aku telah salah memberikan uang dinar itu kepadamu, sebenarnya aku diutus untuk memberikannya kepada orang yang lain, aku takut Mu’awiyah nanti akan menghukumku,” kata utusan itu penuh kekhawatiran. “Bagaimana kamu itu, demi Allah uang itu tidak sampai menginap di sini sedikit pun langsung ku bagikan kepada orang yang membutuhkan pada hari itu juga; tapi tenang, sabarlah dan tunggu nanti akan aku ganti,” jawab Abu Dzar dengan tenang. Muhammad bin Abdillah al-Jardani ad-Dimyathi, al-Jawâhir al-Lu’lu’iyyah fî Syarhil Arba’înan Nawawiyyah, [Mansurah, Maktabah al-Îman], halaman 157. Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah, Teladan kezuhudan Abu Dzar al-Ghifari ini selaras dengan kalam hikmah yang sangat populer حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ Artinya, “Cinta dunia adalah pokok setiap kesalahan” Riwayat Ibnu Abid Dunya dan al-Baihaqi. Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah, Tentu kita cukup sulit untuk meniru secara persis kezuhudan Sayyidina Abu Dzar al-Ghifari. Namun, secara substansial kezuhudan Abu Dzar ra dalam hal menjaga diri dari terkuasai oleh harta duniawi dapat kita teladani. Begitu pula keteladanannya untuk ringan berbagi rezeki kepada orang-orang yang lebih membutuhkan. Dengan meneladaninya semoga kita tercatat sebagai orang yang telah berupaya meningkatkan ketakwaan dengan sebenar-benarnya. Amin ya rabbal alamin. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. وَالْعَصْرِ ١ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ٢ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ٣. بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ بِاْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم Khutbah II اَلحمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهدُ أَنْ لَآ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِرْغامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وأَشْهَدُ أَنَّ سَيّدَنَا محمَّدًا عَبدُهُ ورسُولُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ والْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا محمَّدٍ واٰلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَينٌ بِنَظَرٍ وأُذُنٌ بِخَبَرٍ أَمَّا بَعْدُ فيَآ أَيُّهاالنّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَاَلى وَذَرُوا الْفَواحِشَ ما ظهَرَ مِنْها وَمَا بَطَنَ، وحافَظُوا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُورِ الْجُمُعَةِ والْجَماعَةِ . وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيه بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلائكةِ قُدْسِهِ، فَقالَ تَعَالَى ولَمْ يَزَلْ قائِلاً عَلِيمًا إِنَّ اللهَ وَملائكتَهُ يُصَلُّونَ على النَّبِيِّ يَآ أَيّها الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وسَلِّمُوا تَسْلِيْمً. اَللَّهمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى سيِّدِنا محمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا محمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ في الْعالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اَللَّهمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاء الرّاشِدِينَ الَّذينَ قَضَوْا بِالْحَقِّ وَكانُوا بِهِ يَعْدِلُونَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ و عُثْمانَ وَعَلِيٍّ وَعَنِ السَتَّةِ الْمُتَمِّمِينَ لِلْعَشْرَةِ الْكِرامِ وَعَنْ سائِرِ أَصْحابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعينَ، وَعَنِ التَّابِعِينَ وتَابِعِي التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسانٍ إِلَى يَومِ الدِّينِ. اَللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ فِي عُنُقِنَا ظَلَامَةً، ونَجِّنَا بِحُبِّهِمْ مِنْ أَهْوالِ يَومِ الْقِيامَةِ. اَللَّهمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ والمُسْلِمِيْنَ، وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ والمُشْركِينَ، ودَمِّرْ أَعْداءَ الدِّينِ. اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي دُوْرِنَا وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنا، وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلَايَتَنا فِيمَنْ خافَكَ وَاتَّقَاكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ والْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِناتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ والْأَمْواتِ، بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اَللَّهمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ والوَباءَ وَالرِّبَا وَالزِّنَا والزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْها وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً، وعَنْ سائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يا رَبَّ الْعَالَمِينَ. رَبَّنا آتِنا في الدّنيا حَسَنَةً وَفي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ والْإِحْسان وإِيتاءَ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الْفَحْشاءِ والْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ على نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْئَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَعَزَّ وَأَجَلَّ وَأَكْبَرُ فَقَالَ اللهُ تَعَالَى إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ والرِّبَا وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ فَيَا عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَعَزَّ وَأَجَلَّ وَأَكْبَرْ Ahmad Muntaha AM, Founder Aswaja Muda dan Redaktur Keislaman NU Online Baca juga naskah khutbah lainnya Khutbah Jumat Bertuturlah yang Baik atau Diam! Khutbah Jumat Kematian itu Pasti, Bersiaplah! Khutbah Jumat Keutamaan yang Semestinya Kita Lakukan
Materi khutbah Jumat kali ini mengingatkan manusia tentang posisi dirinya sebagai ciptaan yang lebih baik dibanding makhluk-makhluk lainnya. Para mustami’ penyimak khutbah Jumat diharapkan menyadari keunggulan ini untuk berusaha menjaga kualitasnya sebagai sang khalifah di muka bumi. Apa yang penting diperhatikan selama ikhtiar itu? Tak lain melaksanakan apa yang menjadi tujuan utama manusia diciptakan menyembah atau mengabdi kepada Allah. Momentum khutbah Jumat adalah saat tepat menggugah kembali asal muasal dan tujuan hidup ini. Terkait relasinya dengan makhluk lain, manusia terbaik adalah mereka yang paling bermanfaat bagi lainnya. Berikut contoh teks khutbah Jumat tentang "Menjadi Manusia Terbaik". Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini pada tampilan dekstop. Semoga bermanfaat! Redaksi Khutbah I أّلْحَمْدُ للهِ خَلَقَ أَدَمَ بِيَدِهِ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ وَأَحْظَاهُ بِجَوَارِهِ وَأَسْجَدَ لَهُ مَلَائِكَةُ الْمُقَرَّبِيْنَ الْأَطْهَارِ أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِ الْغِزَارِ وَأَشْكُرُهُ عَلَى مُتَرَادِفِ فَضْلِهِ الْمِدْرَارِ وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ أَذْهَبَ اللهُ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرَ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى Hadirin jamaah shalat Jumat as’adakumullah, Ketundukan alam semesta terhadap manusia diceritakan langsung oleh sang pemilik alam, Allah subhanahu wata’ala dalam al-Qur’an اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ وَالْفُلْكَ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِاَمْرِهٖۗ وَيُمْسِكُ السَّمَاۤءَ اَنْ تَقَعَ عَلَى الْاَرْضِ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ٦٥ “Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah menundukkan bagimu manusia apa yang ada di bumi dan kapal yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Dan Dia menahan benda-benda langit agar tidak jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.” QS Al-Hajj [22] 65. Satu kata yang menjadi fokus bahasan dalam ayat ini adalah kata “tunduk”. Dalam KBBI, kata tunduk berarti menghadapkan wajah ke bawah, condong ke depan dan ke bawah tentang kepala; melengkung ke bawah tentang malai padi; takluk; menyerah kalah. "Sakhkhara" pada ayat tersebut artinya menundukkan. Muhamma Yunus mengartika سَخَّرَ dengan memaksa kerja tanpa upah. Dari beberapa pengertian tersebut setidaknya mengandung satu pemahaman bahwa Allah menciptakan manusia dengan potensi melebihi potensi yang dimiliki makhluk lainnya. Dengan dengan demikian mereka takluk, kalah, menyerah, dan hormat kepada manusia. Mahasuci Allah yang telah menciptakan manusia di atas yang lain. Hal ini juga disebutkan dalam surah at-Tin ayat 4 لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ٤ “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” QS At-Tin[95] 4. Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah, Banyak yang berpendapat bahwa kelebihan manusia di atas makhluk lainnya adalah karena potensi akal dan berpikir, bahkan Allah sendiri telah menobatkan manusia menjadi khalifah fi al-ardh pemimpin bumi. وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً ٣٠ “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” QS Al-Baqarah [2] 30. Berbeda dengan pendapat para sufi, mereka berpendapat yang menjadi titik unggul manusia dibanding lainnya adalah Pertama, menurut Ibnu Arabi adanya kesempurnaan manusia sebagai lokus penampakan nama-nama asma’ dan sifat-sifat Tuhan. Manusia disebutkan sebagai ciptaan terbaik sebagaimana ditegaskan dalam surah Shad ayat 75 قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ ٧٥ Allah berfirman "Hai Iblis, Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu merasa termasuk orang-orang yang lebih tinggi?" QS Shaad [38] 75. Kalimat “Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku” dalam ayat tersebut menunjukkan betapa istimewanya manusia. Dalam diri manusia terdapat pantulan semua asama Allah sedangkan makhluk lainnya hanya sebagian saja. Kedua, Sayyed Hossein Nasr menyebutkan manusia sebagai satu-satunya makhluk teomorfis atau makhluk eksistensialis yang dapat naik turun martabatnya di hadapan Tuhan. Senada dengan pendapat tersebut al-Jilli melihat manusia sebagai makhluk paripurna atau insan al-kamil. Manusia paripurna inilah disebut dengan khalifah yang sesungguhnya. Bahkan menurut Ibnu Arabi manusia yang tidak sampai pada derajat kesempurnaan adalah binatang yang menyerupai manusia, dan tidak layak menyandang predikat khalifah. Nasaruddin Umar, Tasawuf Modern, Jakarta Republika, hal. 94. Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah, Penjelasan tersebut menjadi motivasi penting bagi manusia agar senantiasa menyadari akan kesempurnaan dirinya, mengembangkan dan memelihara agar kelak kembali kepada berada dalam kondisi sebagaimana awal penciptaannya. Teringat satu pertanyaan jamaah dalam sebuah acara kepada Prof. Quraish Shibab, tentang manusia terbaik. Beliau menjawab bahwa manusia terbaik adalah manusia yang dapat menjalankan apa-apa yang menjadi tujuan ia diciptakan. وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ٥٦ Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. QS Adz-Dzariyat[51] 56. Konsep manusia terbaik dalam hadits Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam adalah orang yang bermanfaat bagi lainnya عن جابر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم المُؤْمِنُ يَأْلَفُ وَيُؤْلَفُ ، وَلَا خَيْرَ فِيْمَنْ لَا يَأْلَفُ ، وَلَا يُؤْلَفُ، وَخَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ »ـ Dari Jabir, ia berkata,”Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” HR. Thabrani dan Daruquthni. Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah, Maka di akhir khutbah pada kesempatan kali ini, khatib mengajak kepada jamaah, marilah kita selalu berusaha untuk menjadikan diri ini tetap istimewa sebagaimana awal penciptaan dan menjadikannya bermanfaat untuk diri dan orang lain serta seluruh makhluk Allah di muka bumi ini. بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم Khutbah II اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ Jaenuri, Dosen Fakultas Agama Islam UNU Surakarta Baca naskah Khutbah Jumat lainnya Khutbah Jumat 7 Adab Menjaga Lisan Menurut Sayyid Abdullah al-Haddad Khutbah Jumat 4 Hal yang Dipertanggungjawabkan di Hari Kiamat Khutbah Jumat Anjuran dan Larangan Menerima Pemberian Orang Lain
khutbah jumat cerita motivasi